A huge collection of 3400+ free website templates JAR theme com WP themes and more at the biggest community-driven free web design site
Home / Kabar / KETUA MUI: ITS BANTU ANALISA PRODUK HALAL

KETUA MUI: ITS BANTU ANALISA PRODUK HALAL

ka.mui

Bersamaan dengan diresmikannya lembaga ITS Halal Center di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) ITS, dihelat pula Seminar dan Launching Pusat Kajian Halal ITS, Kamis (24/3). Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat Dr KH Ma’ruf Amin turut hadir dalam acara ini untuk mendiskusikan sertifikasi halal di Indonesia.

Dalam pemaparannya, Ma’ruf menegaskan bahwa proses sertifikasi halal sangatlah penting. Sementara itu, ITS sebagai salah satu akademisi dianggap sangat berperan dalam hal ini karena mampu menganalisa kehalalan suatu produk. “Misalnya saja menyoal kepiting yang hidup di dua alam. Maka kita pasti akan melakukan diskusi dengan pakar yang mumpuni,” jelasnya.

Ma’ruf berpendapat, kekhawatiran masyarakat tentang status kehalalan bisa jadi berujung pada pemboikotan suatu produk. “Isu yang paling panas saat itu adalah campuran minyak babi pada makanan tertentu,” ujarnya. Isu semacam itu, menurutnya sangat mempengaruhi sepak terjang suatu produk di pasaran.

Alumnus Universitas Ibnu Chaldun Jakarta ini menegaskan, standar MUI sekarang telah mencapai standar global, bukan lagi nasional. Banjir permintaan sertifikasi dari luar negeri pun kian ramai mengguyur, terutama dari Korea dan Tiongkok. “Mereka sedang berlomba-lomba untuk menyertifikasi produknya,” terangnya.

Ma’ruf berharap, produk Indonesia tidak kalah bersaing dengan produk luar dalam hal sertifikasi kehalalan. “Pemerintah Korea dan Tiongkok saja sampai menggelontorkan dana besar hanya untuk mewujudkan sertifikasi halal ini,” tukasnya. Bahkan, ia mengatakan pihaknya akan memberi pelayanan sertifikasi gratis untuk usaha kecil dan menengah.

Selain itu, Ma’ruf dan pihaknya juga berencana untuk menjadikan sertifikasi halal sebagai sebuah kewajiban, bukan sukarela. “Sekarang ini baru sekitar 15 persen produk yang telah tersertifikasi,” terangnya. Dengan adanya sifat wajib ini, MUI menargetkan setiap produk harus berlabel halal pada tahun 2019. Bila tidak berlabel halal berarti berlabel haram.

sumber berita dari : https://www.its.ac.id/berita/100019/en

Print Friendly

Check Also

PERPANJANGAN JADWAL UNGGAH DAN PENYERAHAN REVISI PROPOSAL BESERTA RAB DAN RPP PPM DANA LOKAL ITS DAN DRPM TAHUN 2017

Best free WordPress theme

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *